MODEL DISCOVERY LEARNING DAN MEDIA VIDEO PEMBELAJARAN DARING SEJARAH SISWA KELAS X TKR 2 SMK MUHAMMADIYAH 2 SRAGEN

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN MODEL DISCOVERY LEARNING DAN MEDIA VIDEO DALAM PEMBELAJARAN DARING SEJARAH PADA SISWA KELAS X TKR 2 SMK MUHAMMADIYAH 2 SRAGEN

 

 

Oleh

Anis Munandziroh

anismunandziroh@gmail.com

SMK Muhammadiyah 2 Sragen

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran daring sejarah melalui penggunaan model discovery learning dan media video. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan subyek penelitian siswa kelas X TKR 2 SMK Muhammadiyah 2 Sragen sebanyak 35 siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus dimana setiap pertemuan terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pelaksanaan tahap-tahap penelitian sedikit berbeda dari pembelajaran dalam kelas karena pembelajaran dilakukan secara daring (dalam jaringan) atau siswa berada dirumah masing-masing. Berdasarkan hasil penelitian, pada siklus I diperoleh nilai rata-rata kelas pada uji pengetahuan sebesar 78,1. Sedangkan pada siklus II diperoleh nilai rata-rata kelas pada uji pengetahuan sebesar 88,2. Jadi dari siklus I dan siklus II terjadi peningkatan hasil belajar siswa sebesar 10,1. Secara klasikal, dikatakan tuntas belajar apabila mencapai ≥ 80% dari keseluruhan nilai siswa atau nilai rata-rata siswa di kelas. Jumlah siswa yang tuntas lebih dari 80%, yaitu 94%, berarti secara klasikal pembelajaran dikatakan tuntas. Berdasarkan uraian di atas maka, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa melalui penggunaan model discovery learning dan media video dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran daring sejarah.

Kata Kunci:  discovery learning, sejarah, hasil belajar, pembelajaran daring.

Pendahuluan

Belajar merupakan kegiatan utama dari keseluruhan proses pendidikan di sekolah yang bertujuan untuk menghasilkan perubahan tingkah laku. Perubahan itu meliputi kognitif, psikomorik, dan afektif. Kegiatan pembelajaran memerlukan keaktifan belajar, partisipasi dan komunikasi interaktif  antara guru dan siswa. Aktivitas belajar dirancang sedemikian rupa sehingga menghasilan pembelajaran yang di tentukan. Keberhasilan dalam proses pembelajaran dapat dilihat dari pemahaman konsep, penguasaan materi dan prestasi belajar. Siswa dengan tingkat pemahaman konsep dan penguasaan materi yang tinggi maka semakin tinggi prestasinya. Selain itu faktor penentu keberhasilan pembelajaran adalah ketepatan penerapan model dan media pembelajaran. Seorang guru diharuskan memahami metode pembelajaran terutama yang berkaitan dengan model-model pembelajaran. Model pembelajaran merancang pembelajaran dan merencanakan aktifitas belajar mengajar (Arsyad, 2014), sedangkan manfaat media pembelajaran adalah memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapatmemperjelas dan meningkatkan proses dan hasil belajar. Media pembelajaran juga dapat mengarahkan perhatian siswa sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar yang berdampak pada keaktifan dan hasil belajar.

Pendidikan memegang peranan penting suatu bangsa. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia melalui pengajaran (Rohmah, 2017). Sesuai Undang-Undang sistem pendidikan nasional pasal 3 tentang fungsi dan tujuan pendidikan nasioanal adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermanfaat dalam mencerdaskan kehidupan bangasa. Pendidikan nasional juga bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhak mulia, sehat,berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertangung jawab. Tujuan inilah yang mendasari peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan dengan melakukan pembaharuan dalam proses pembelajaran, salah satunya adalah penerapan media pembelajaran yang inovatif. Untuk menjawab tantangan abad 21, guru harus mampu berinovasi dalam penerapan media pembelajaran untuk meningkatkan motivasi dan keaktifan siswa yang berdampak pada hasil belajar.

Pembelajaran abad 21 dirancang untuk anak generasi abad 21 atau bisa kita sebut sebagai anak milenial, dimana teknologi dan komunikasi berkembang secara cepat dan mempengaruhi segala elemen kehidupan termasuk dunia pendidikan. Dengan pengaruh yang seperti itu, para peserta didik diharapkan mampu beradaptasi dengan zaman, sehingga dapat berkompetisi dimasa depan.

Indonesia memiliki kurikulum 2013 yang bisa dipadukan dengan pembelajaran abad 21, dan terdapat elemen-elemen yang mempresentasikan apa itu pembelajaran abad 21, yaitu: Creativity and Innovation, Collaboration, Communication, Critical Thinking and Problem Solving (4C). Selain 4C terdapat juga model pembelajaran abad 21 yang dipandang potensial untuk mengintegrasikan teknologi dan dapat diterapkan pada berbagai tingkatan usia, jenjang pendidikan dan bidang studi. Metode pembelajaran dimaksud antara lain: Discovery learning; Pembelajaran berbasis proyek (Project Base Learning); Pembelajaran berbasis masalah dan penyelidikan (Problem Base Learning); Belajar berdasarkan pengalaman sendiri (Self Directed Learning/SDL); Pembelajaran kontekstual (melakukan); Bermain peran dan simulasi; Pembelajaran kooperatif; Pembelajaran kolaboratif; Diskusi kelompok kecil.

Sejak Januari virus corona jenis baru diumumkan dapat menular antar manusia, dan sudah menjajah di berbagai negara lain selain Wuhan di China, tak terkecuali Indonesia. Pada 2 Maret 2020, untuk pertama kalinya pemerintah mengumumkan dua kasus pasien positif Covid-19 di Indonesia (Kompas.com). COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan.  Virus baru dan penyakit yang disebabkannya ini tidak dikenal sebelum mulainya wabah di Wuhan, Tiongkok, bulan Desember 2019. COVID-19 ini sekarang menjadi sebuah pandemi yang terjadi di banyak negara di seluruh dunia.

Pembelajaran daring (online learning) menjadi sebuah pilihan kementerian pendidikan dan kebudayaan untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 semakin meluas. Praktik pendidikan daring (online learning) ini dilakukan oleh berbagai tingkatan jenjang pendidikan sejak tingkat SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Tidak ada lagi aktifitas pembelajaran di ruang-ruang kelas sebagaimana lazim dilakukan oleh tenaga pendidik yaitu guru maupun dosen

Ada beberapa kendala dalam pelaksanaan pembelajaran daring, baik kendala ekonomi, kendala koneksi internet yang tidak stabil, ditambah dengan seberapa efektif pembelajaran daring. Tidak menjadi masalah jika pembelajaran daring sesekali digunakan dalam pembelajaran, namun jika digunakan setiap hari dari Senin-Jumat selama berbulan-bulan maka akan berdampak tidak sehat bagi pembelajaran itu sendiri. Belum bisa diprediksi sampai kapan sekolah daring di masa Pendemi Covid-19 akan berakhir. Semua ini sangat tergantung pada kondisi zona Covid-19 di masing-masing wilayah yang berarti kebijakan pembelajaran daring akan terus bergulir.

Hanya saja pembelajaran daring yang rentang waktunya teramat panjang, jelas membawa efek psikologis. Pembelajaran yang kurang inovatif dan ditambah dengan model pembelajaran guru yang hanya sebatas pemberian instruksi-instruksi dan penyampaian tugas-tugas untuk siswa. Bukan tidak mungkin, sekolah daring di era pandemi ini, pada titik tertentu akan memicu munculnya problem psikologis yaitu kejenuhan belajar. Hal ini menjadi tantangan bagi guru untuk tetap dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, menarik dan aktif. Walaupun pembelajaran dilaksanakan jarak jauh atau daring, guru harus mampu meningkatkan keaktifan siswa sehingga hasil belajar siswa meningkat. Keaktifan siswa dan peningkatan hasil belajar dapat tercipta melalui penerapan media, metode, dan model pembelajaran yang menarik.

Untuk mengantisipasi masalah tersebut perlu dilakukan strategi pembelajaran yang tepat, sehingga dapat meningkatkan keaktifan dan peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah. Suatu materi pembelajaran akan lebih mudah diingat dan dipahami apabila siswa dapat menemukan sendiri konsep dari materi tersebut. Sebelum menemukan suatu konsep pembelajaran siswa akan melakukan aktivitas mengumpulkan segala informasi yang terkait dengan materi yang bersangkutan. Kegiatan ini dapat meningkatkan aktivitas siswa. Hal ini dapat diterapkan salah satunya dengan menerapkan model Discovery Learning. Model Discovery Learning mendorong siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan siswa dituntut dapat menemukan pemecahan masalah sendiri dalam persoalan. Aktivitas siswa dalam pembelajaran Sejarah diharapkan dapat meningkat dengan dilaksanakannya model Discovery Learning. Selain siswa yang menjadi subjek utama pembelajaran yang harus aktif dan mencari informasi dari berbagai sumber media, guru diharapkan dapat menjadi fasilitator yang baik dan dapat melakukan konfirmasi atas informasi-informasi yang didapatkan siswa dari berbagai sumber tersebut.

Untuk meningkatkan hasil pembelajaran tak cukup hanya menggunakan model pembelajaran saja, tentu diperlukan adanya media pembelajaran. Media pembelajaran yang dirasa sesuai untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran Sejarah adalah dengan media video. Menurut Arsyad (2016: 50) media video dapat menggambarkan suatu proses secara tepat yang dapat disaksikan secara berulang-ulang jika dipandang perlu. Jika dikaitkan dengan kondisi pembelajaran daring saat ini, media video dirasa sesuai karena fasilitas dan platform-platform belajar daring mendukung media video ini.

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas  untuk  meningkatkan hasil belajar siswa melalui penggunaan model discovery learning dan media video. Penelitian ini dilakukan pada materi Dampak penjajahan Bangsa Eropa di Indonesia. Subyek penelitian adalah siswa kelas X TKR 2 SMK Muhammadiyah 2 Sragen sebanyak 35 siswa. Penelitian dilakukakan sejak tanggal 19 Oktober 2020 sampai tanggal 20 November 2020. Pada penelitian ini penggunaan jenis data yaitu dengan menunjuk data apa saja yang menjadi fokus penelitian. Data kualitatif diperoleh dari informasi-informasi pelaksanaan penerapan discovery learning dengan media video, sedangkan data kuantitatif diperoleh dari hasil belajar siswa.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Penelitian ini dilakasanakan 2 siklus yaitu siklus I dan siklus II. Tahapan penelitian yang dilakukan pada siklus I adalah (1) tahap perencanaan yaitu menyiapkan RPP, bahan ajar, LKPD, media video, kisi-kisi dan soal evaluasi, (2) tahap pelaksanaan yaitu menerapkan sintaks model discovery learning, menggunakan media video dalam pembelajaran, (3) tahap observasi mengunduh hasil pekerjaan siswa, (4) refleksi. Tahap-tahap ini juga dilakukan pada siklus II. Tahap-tahap penelitian ini sedikit berbeda karena pembelajaran dilakukan secara daring (dalam jaringan).

Berdasarkan hasil praktik pembelajaran yang dilaksanakan pada tahap siklus I dengan menerapkan model discovery learning dan video pembelajaran didapatkan hasil sebagai berikut. Terjadi peningkatan kehadiran siswa, yang semula hanya 60 % menjadi  88% yaitu dari 35 siswa, 31 anak yang hadir. Nilai rata-rata kelas pada uji pengetahuan mengalami peningkatan, dari 61,8 (prasiklus) menjadi 78,1. Ada peningkatan sebesar 16,3. Ketuntasan minimal hasil belajar pengetahuan adalah sebesar 75. Nilai uji pengetahuan pada soal evaluasi peserta didik terendah adalah 40 dan tertinggi adalah 100. Ada 6 anak dengan nilai dibawah KKM. Berdasarkan hasil praktik perangkat pembelajaran siklus I, peneliti memandang perlu diadakan kegiatan siklus II untuk lebih memaksimalkan jumlah kehadiran hasil belajar (kognitif) peserta didik dikarenakan hasil yang didapatkan pada kegiatan pembelajaran pada siklus I terlihat peningkatan yang belum signifikan.

Dalam pelaksanaan praktik pembelajaran pada siklus II dengan menerapkan model discovery learning dan video pembelajaran didapatkan hasil sebagai berikut. Kehadiran siswa  94%, dari 35 siswa, 33 anak yang hadir. Terdapat penambahan jumlah siswa yang ikut berpartisipasi dalam diskusi di forum google classroom dari 14% menjadi 26%. Nilai rata-rata kelas pada uji pengetahuan mengalami peningkatan, dari 78,1 (menjadi) menjadi 88,2. Ada peningkatan sebesar 10,1. Hal ini menandakan adanya perubahan dan peningkatan setelah penerapan model discovery learning dan video pembelajaran. Ketuntasan minimal hasil belajar pengetahuan adalah sebesar 75. Nilai uji pengetahuan pada soal evaluasi peserta didik terendah adalah 80 dan tertinggi adalah 100. Jadi dapat disimpulkan bahwa peserta didik sudah mencapai kriteria ketuntasan minimal. Secara klasikal, dikatakan tuntas belajar apabila mencapai ≥ 80% dari keseluruhan nilai siswa atau nilai rata-rata siswa di kelas. Ketuntasan belajar secara klasikal dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

                           

Jadi, jumlah siswa tuntas lebih dari 80%, yaitu 94%, berarti secara klasikal pembelajaran dikatakan tuntas.

Penutup

Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah terdapat peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran daring sejarah melalui penggunaan model discovery learning dan media video pada siswa kelas X TKR 2 SMK Muhammadiyah 2 Sragen semester gasal tahun pelajaran 2020/2021. Setelah pelaksanaan pembelajaran daring melalui penggunaan model discovery learning dan media video pada siklus I diperoleh nilai rata-rata kelas pada uji pengetahuan adalah 78,1, sedangkan siklus II diperoleh nilai rata-rata kelas 88,2. Jadi, penggunaan model discovery learning dan media video dalam pembelajaran daring sejarah dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X TKR 2 SMK Muhammadiyah 2 Sragen.

 

Daftar Pustaka

  1. BUKU

Agung, Leo dan Wahyuni, Sri. 2013. Perencanaan Pembelajaran Sejarah. Yogyakarta: Ombak

Arikunto, dkk. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta. Bumi Aksara

Arsyad, Azhar. 2016. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Press.

Bruner, J. S. (1996). The culture of education. UK: Harvard University Press.

Darsono. 2002. Teori Pembelajaran. Jakarta: Erlangga.

Hamalik, Oemar. 2006. Kurikulum dan Pembelajaran.  Jakarta: Bumi Aksara.

Harwood, William. (2014). Effects of Integrated Video Media on Student Achievement and Attitudes in High School Chemistry. Journal Of Research In Science Teaching, 34 (6), 617-631.

Hidayat, Dasrun. 2012. Komunikasi Antar pribadi dan  Medianya. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Kartodirdjo, Sartono. 2014.  Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.

Kochhar.S.K. 2008. Pembelajaran Sejarah. Jakarta: Gramedia.

Kurniasih, S. (2014). Strategi-strategi pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Madjid, M.Saleh dan Hamid, Abdul Rahman. 2008. Pengantar Ilmu Sejarah. Makassar : Rayhan Intermedia.

Munadi,Yudhi. 2013. Media Pembelajaran: Sebuah Pendekatan Baru. Jakarta: GP Press Group.

Oemar Hamalik. 2011.  Proses Belajar-Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran : Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Rusman, dkk. 2012.  Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi: Mengembangkan Profesionalitas Guru. Jakarta: Rajawali Pers.

Sadiman, Arif. 2002. Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatan. Jakarta: PT. Raja Grafindo.

Sudjana, Nana. (2013). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja

Rosdakarya.

Usman, Uzer.(1993). Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. PT. Remaja Rosdakarya: Bandung

Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana Media Prenada Group

  1. INTERNET

Kompas.com 12 Oktober 2020

https://mediaindonesia.com/read/detail/298964-covid-19-dan-pembelajaran-daring

12 Oktober 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *